Peran Perawat Mendoakan Orang Sakit


Sebagai seorang muslim, hendaknya kita mendoakan saudara kita sesama muslim yang sedang sakit, terlebih lagi jika kita seorang perawat yang memiliki tugas mulia. Perawat pada dasarnya adalah orang yang memiliki peran untuk mendampingi pasiennya hingga pasien itu sembuh atau hingga pasien itu menghadapi kematian yang tenang.

Peran doa dalam kesembuhan

Penelitian Snyderman (1996) menyebutkan bahwa terapi medis saja tanpa disertai dengan doa dan dzikir, tidaklah lengkap. Sebaliknya doa dan dzikir saja tanpa disertai dengan terapi medis, tidaklah efektif. Sementara itu Matthew (1996) menyatakan bahwa suatu saat kita para dokter dan perawat selain menuliskan resep obat juga akan menuliskan doa dan dzikir pada kertas resep sebagai pelengkap.

Dari pengalaman praktek sehari-hari pengalaman Hawari, D. (1997) berupa integrasi medikpsikiatrik dengan agama, membawa hasil klinis yang bermakna sesuai dengan temuan hasil penelitian para pakar lainnya. Uraian berikut ini sekedar contoh bahwa orang yang menderita sakit hendaknya berobat dan berdoa,selain itu diberikan pula contoh resep doa dan dzikir yang diberikan kepada para pasien untuk diamalkan selain meminum obat sesuai dengan resep dokter.

Manfaat pendekatan keagamaan dibidang kesehatan jiwa oleh Dr. D.B. Larson (1992) dalam berbagai penelitian yang berjudul “Religius Commitment and Health, menyimpulkan bahwa dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan (spiritual power) jangan diabaikan begitu saja. Selanjutnya di kemukakan bahwa agama dapat berperan sebagai pelindung dari pada penyebab masalah (religion may have actually been protective rather than problem producing).

Sebagai motivator, sangatlah baik jika perawat memberi motivasi kepada pasiennya. Motivasi-motivasi itu dapat berupa:

  1. Usaha berobat

Berikanlah motivasi bagi pasien yang menderita sakit, bahwa ia hendaknya berusaha berobat disertai dengan doa dan dzikir, hal ini sesuai dengan dua buah hadist berikut yang artinya:

    1. “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin Allah penyakit itu sembuh. (H.R. Muslim dan Ahmad)”
    2. “Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Allah SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua.” (H.R. At Tirmidzi)
  1. Allah yang menyembuhkan

Motivasi pasien agar selalu meminta kesembuhan kepada Allah SWT, karena hanya Allah SWT yang dapat menyembuhkan pasien dari sakitnya. Hal ini sesuai dengan dua ayat berikut, yang artinya:

    1. “Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa, apabila berdoa kepada-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah, 2:186)
    2. Dan bila aku sakit Dialah yang menyembuhkan” (Q.S. Asy Syu’araa’, 26:80)
  1. Penyakit adalah cobaan perlu kesabaran

Motivasi pasien untuk tetap sabar dalam menghadapi sakitnya, karena dalam pandangan agama Islam orang yang sedang menderita sakit itu dapat dianggap sebagai ujian keimanan, dan untuk mengatasinya diperlukan kesabaran, sebagaimana 3 buah ayat berikut ini, yang artinya :

    1. “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah, 2:153).
    2. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah, 2:155).
    3. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S. Azzumaz, 39:10).
  1. Ridho dan penghapusan dosa

Berikan motivasi kepada pasien, hendaknya ia menerima sakitnya itu sebagai cobaan dengan hati yang ridha, karena sesungguhnya apa yang sedang dideritanya itu sebagai suatu penghapusan dosa yang sadar atau tidak sadar pernah dilakukan di masa lalu. Hal ini sesuai dengan 2 buah hadist, yang artinya :

    1. “Dan sesungguhnya bila Allah SWT. Mencintai suatu kaum, dicobanya. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan menerima Keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha), dia akan memperoleh kemurkaan Allah” (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
    2. “Dari Abu Huairah r.a dari Nabi Muhammad SAW. Bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan menumpuk pada dirinya (karena banyaknya) kecuali Allah hapuskan akan dosa-dosanya” (H.R. Bukhari dan Muslim)
  1. Beserta kesukaran ada kemudahan

Orang yang menderita sakit seringkali kurang sabar berobat kesana kemari berpindah-pindah karena kurang percaya diri. Meskipun penyakitnya itu nampaknya sukar untuk disembuhkan sesungguhnya tidak demikian. Perawat hendaknya memotivasi pasiennya untuk berobat pada ahlinya dan senantiasa berdoa kepada-Nya (tawakal). Hal ini sesuai dengan ayat berikut ini, yang artinya:

‘Maka sesungguhnya beserta kesukaran itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan sungguh-sungguh, dan kepada Tuhanmu engkau memohon tolong” (Q.S. Al-Insyiraah,94:5-8)

  1. Ketenangan jiwa

Pada umumnya orang yang sedang menderita sakit diliputi oleh rasa cemas dan jiwa yang tidak tenang. Perawat dianjurkan untuk mengingatkan pasiennya bahwa selain berobat pada ahlinya, maka berdoa dan berdzikir (mengingat Allah) dapat menenangkan jiwa yang bersangkutan. Tuhan menganjurkan dalam keadaan bagaimanapun juga hendaknya ketenangan jiwa tetap dijaga karena Allah menjanjikan pahala surga. Dua buah ayat berikut yang artinya:

    1. “(yaitu), orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram” (Q.S. Ar Ra’d, 13: 28)
    2. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam Surga-Ku” (Q.S. Al Fajr, 89:27-30)
  1. Jangan cemas dan sedih

Biasanya orang yang sedang menderita sakit diliputi kecemasan dan kesedihan. Kedua hal ini dapat memperberat penyakit yang sedang dideritanya, oleh karena itu selain obat anti cemas dan anti defresi yang diberikan, pasien hendaknya dianjurkan berdoa sebagaimana dua ayat berikut ini:

    1. “Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul melainkan untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Maka, barang siapa yang beriman dan berbuat baik, bagi mereka tidak ada kekhawatiran(kecemasan) dan tidak (pula) berduka cita dan bersedih hati (defresi)” (Q.S. Al An’aam, 6:48)
    2. “Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman” (Q.S. Ali Imran,3;139)
  1. Jangan was-was, bimbang dan ragu

Orang yang sedang sakit berkepanjangan seringkali diliputi oleh rasa was-was,bimbang dan ragu terhadap terapi medik-psikiatrik yang diberikan oleh dokter(psikiater). Dalam kondisi yang demikian ini ia mulai tersugesti oleh anjuran orang lain untuk berobat ke dukun,paranormal,”orang pintar”,dan sejenisnya; yang pada gilirannya dapat memperparah penyakitnya. Untuk menghindari hal tersebut perlu dipulihkan rasa percaya diri, dan itulah yang harus dilakukan perawat. Ingatkanlah pasien dengan ayat berikut ini yang artinya :

“Katakanlah : aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia,yang menguasai manusia,Tuhan bagi manusia,dari kejahatan bisikan setan(was-was,ragu dan bimbang) yang tersembunyi. Yang membisikkan dalam dada (hati) manusia yang berasal dari jin dan manusia” (Q.S. An Naas,114:1-6)

Selain memberikan motivasi, perawat juga harus ikut mendoakan pasiennya, dan lebih baik lagi jika perawat itu bisa membimbing keluarga pasien untuk mendoakan pasien.

  1. 1. Do’a mendoakan orang sakit

Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sa asyfi antasy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba’sa rabban naasi biyadikasy syifaa’u, laa aasyifa lahu illaa anta, as’alullaahal ‘azhiima, rabbal ‘ arsyil ‘azhiimi an-yasfiyaka.

Artinya : Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit
itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. 2. Doa sebelum dan sesudah minum obat

Seseorang yang sedang menderita sakit sebelum minnum obat yang diresepkan oleh dokter, sebaiknya berdo’a sebagai hadist berikut ini yang artinya:

    1. “Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menyembuhkan aku dengan tidak menderita sakit lagi” (H.R. Bukhari).
    2. “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang: Ya Allah, Tuhannya manusia, hilangkanlah derita, sembuhkanlah penyakit, Engkaulah Zat Maha Penyembuh kecuali Engkau. Ya Allah hamba mohon kepada-Mu agar aku sahat” (H.R. Ahmad Nasai dari Muhammad bin Khatib)

Sesudah minum obat disertai doa sebagaimana tersebut diatas, sesuai dengan anjuran Nabi hendaknya yang bersangkuta sesudah meminum obat membaca doa berikut ini, yang artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kepada kita kecukupan dan kepuasan yang tidak terabaikan dan tidak tertolak” (H.R. Bukhari dari Abi Umamah).

  1. 3. Doa sesudah sembuh

Bila seseorang telah sembuh dari penyakitnya, setelah menjalani pengobatan secara medik-psikiatrik disertai dengan doa dan zikir; patutlah ia bersyukur pada Allah SWT. Sebagai berikut, yang artinya:

“Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan yang memelihara segalaalam , pujian yang menyamai nikmat-Nya dan menandingi keutamaan-Nya” (H.R. Bukhari)

  1. 4. Doa menghadapi kematian

Bila seseorang dalam keadaan mendekati kematian, maka menjadi kewajiban anggota keluarganya untuk menuntunnya mengucapkan kalimat (yaitu dengan membisikkan ke telinganya): “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah). Hal ini sesuai dengan dua buah hadist berikut, yang artinya:

    1. “Ajarkanlah kepada akan mati (diantara) kiamu kalimat: “Laa Ilaaha Ilallah” (H.R. Muslim)
    2. “Siapa yang akhir kalimat yang keluar dari lidahnya, kalimat “Laa Ilaaha Ilallah” pasti masuk sorga” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim)
  1. 5. Dzikir yang dianjurkan

Selain contoh doa sebagaimana diuraikan dimuka, maka tidaklah lengkap dan sempurna apabila tidak disertai dengan dzikir. Dzikir adalah ucapan yang selalu mengingatkan kita kepada Allah. Perihal dzikir, ayat berikut ini menjelaskannya yang artinya:

“Dan berdzikirlah (ingat Tuhanmu) dalam hatimu dalam kerendahan hati dan rasa takut, dengan suara perlahan-lahan diwaktu pagi dan petang hari, dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang lalai” (Q.S. Al-a’raaf)

Adapun ucapan atau bacaan dzikir yang dimaksudkan adalah:

a. Membaca Tasbih: “Subhaanallaah” (Maha suci Allah)

b. Membaca Tahmid: “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah)

c. Membaca Tahlil: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah)

d. Membaca Takbir: “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar)

e. Membaca Hauqalah: “Laa haula walaa quwwata ilaa billah” ( Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali kepunyaan Allah)

f. Membaca Hasbalah: “Hasbiyallaahu wani’mal wakil” (Cukuplah Allah dan sebaik-baik pelindung)

g. Membaca istigfar: “Astagfirullaahal’azhiim” (Saya mohon ampun kepada Allah yang maha Agung)

h. Membaca Lapad Baaqiyaatush shaalihat: “Subhanallah, walhamdulillaah, walaa ilaaha illallah, wallaahu akbar” (Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Allah maha besar)

Sungguhlah mulia seorang perawat di mata muslim lainnya dan di mata Allah SWT, ketika ia dapat dengan tulus merawat, mendoakan, memotivasi dan membimbing pasiennya yang sedang sakit untuk kembali kepada Allah.

Advertisements

Ini blog saya!

akhirnyaaaaaaaa sempet juga bikin blog, padahal bentar lagi harus dikumpulin hmmmmmm.. semangaaaaaat !